1. Welcome to kiwibox

    We're happy that you are part of our community. Please take a few minutes discover how kiwibox works.

    You want to explore kiwibox on your own? No problem. You can easily restart the tour at any time by using the sidebar if you change your mind.

  2. Logo

    A click on the kiwibox Logo brings you back to the startpage. Besides a menue with a lot of useful links opens if you mouse over.

  3. Notifications

    You may find all of your news, friendship requests and messages up right in the navigation bar.

  4. Settings

    Just mouse over a post and the gearwheel will appear. Here you'll find all the settings for your news.

  5. Supermodul

    The supermodul summarizes various contents. Enjoy exploring!

vipmajalahfit

vipmajalahfit   , 28

from Sabana Hoyos

Statistics

Mengenai Riwayat Pengkodifikasian Al-Quran

Banyak dari kita tak mengenal bahwa Al-Quran dahulu tak berbentuk kodifikasi seperti saat ini. Al-Quran dulu ialah wahyu yang diwariskan kepada Nabi Muhammad SAW dan belum dikodifikasikan. Berkat jasa Umar Bin Khattab terjadilah dinamika penulisan Al-Quran sehingga Al-Quran dapat terkodifikasikan seperti yang kita ketahui sekarang. Pengkodifikasian hal yang demikian bermula pada saat perang Yamanah.

Dalam perang hal yang demikian banyak prajurit terbunuh terutamanya dari kalangan penghafal Al-Quran. Memandang kejadian semacam itu lalu Umar mengambil inisiatif untuk mengkodifikasikan Al-Quran. Melalui pro kontra dengan Abu Bakar yang saat itu menjadi khalifah hasilnya diambil keputusan bahwa pandangan baru Umar untuk mengkodifikasikan Al-Quran. Progres pengkodifikasian tersebut juga berlangsung cukup lama yaitu sekitar satu tahun. Dalam mengerjakan hal ini Umar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengerjakannya. Agar ini bukan tanpa alasan karena Zaid adalah orang yang menulis di hadapan Rasulullah dikala beliau mendapatkan wahyu.

Selain pengkodifikasian bisa dikerjakan dengan baik dan tanpa melewatkan apa malahan maka dilakukanlah dua metode sekalian dalam dinamika penulisan Al-Quran. Pertama ia menggunakan sistem memakai wahyu yang pernah ditulisnya dahulu dengan disertai oleh dua orang saksi. Selain cara tersebut Zaid menggunakan metode dengan sistem mencatat hafalan Al-Quran dari para teman. Supaya hal yang demikian dikerjakan untuk memperjelas potongan wahyu yang akan dikodifikasikan nantinya. Selain itu dengan kedua cara tadi diinginkan murah internet bisa menemukan potongan wahyu yang hilang atau sebagainya.

Maka pengkodifikasian hal yang demikian walhasil diserahkan kepada Abu Bakar dan berikutnya setelah Abu Bakar wafat kodifikasian tadi dimiliki oleh Utsman bin Affan. Melihat hal tersebut tentu saja kita harus berterimakasih terhadap Umar bin Khattab sebab sekiranya bukan karena inisiatifnya kita tidak mungkin mengetahui Al-Quran yang kita kenal saat ini.

Perjuangannya untuk melakukan inisiatif dalam dinamika penulisan Al-Quran memang pantas untuk diacungi jempol. dari itu sebagai umat Islam, kita sepatutnya mengapresiasi hasil usaha beliau untuk mengkodifikasikan Al-Quran salah satunya dengan rajin membacanya. Kecuali itu kita juga patut berterima kasih maka bayangkan saja jika Al-Quran tak dikodifikasikan tentu saja apabila akan benar-benar kesusahan ketika mau membacanya.